SEKELUMIT CERITA PENELITIAN (3) : SEGELINTIR MASJID

11:09 PM

Hari ini aku dan partner turun lapangku, Ica, pergi ke sebuah desa yang letaknya di Bogor Selatan. Biasa.. untuk keperluan sekeripsih. Kami datang berkunjung ke RT. 03 RW. 05 untuk mewawancarai masyarakat di sekitar sana. Mengawali turun lapang hari ini, aku sama Ica mampir dulu ke tempat Ibu Ketua RT buat ijin wawancara daaan sekalian wawancara si ibunya. hehehee. Sembari wawancara dan kebetulan lagi ngomongin masjid, ibu RT cerita kalo pemahaman masyarakat di desa terutama RTnya dia itu beda banget dengan pemahaman orang pada umumnya. Seperti misalnya, Jenazah yang meninggal karna sakit wajib bayar fidyah berupa beras untuk mengganti sholat-sholatnya si mayit selama sakit (lah!), terus mayit perempuan gak boleh dipegang bapak-bapak lain buat digotong gitu karna bukan muhrimnya (lah!), sama yang paling paraaah kalo menurut kami yaitu wanita DILARANG masuk ke masjid. Dilarang di sini udah sampe taraf HARAM lagi. Astaghfirullah...

Kalo menurut penuturan Ibu RT sih, sejak dia pindah tahun 2000an silam, aturan kaya gitu udah ada. Dia sampai kaget banget ada aturan semacam itu waktu baru pindah. Wanita manapun termasuk ibu RT sendiri tidak diperbolehkan masuk masjid bahkan diteriaki dengan keras ketika beliau melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat. Wanita dianggap akan 'mengotori' masjid jika sholat disana. Bahkan masjid tersebut tidak menyediakan space sedikitpun untuk wanita ikut sholat berjamaah. Jika wanita ingin sholat di luar rumah atau mengadakan pengajian ibu-ibu hanya diperbolehkan menggunakan madrasah (surau atau mushala). Parahnya, lebaran idul fitri dan idul adha juga tak luput dari aturan itu. Ada space untuk wanita, hanya saja sangat berjauhan dengan laki-laki dan imam sehingga membuat wanita-wanita di sana memilih masjid lainnya yang jaraknya lebih jauh. Yang lebih lebih parah lagi, pelaksanaan akad nikah juga dilarang di dalam masjid. Pernah suatu ketika ada warga yang hendak menikah namun memiliki rumah yang kecil sehingga tidak cukup tempat untuk melakukan akad nikah. Akhirnya Pak RT sebagai pihak yg berwenang mempersilahkan calon pengantin melakukan akad nikah di masjid. Setelahnya, pak RT tersebut justru ditanyai warga bahkan dituduh meneriama uang 'pelicin' supaya bisa menggunakan masjid untuk pernikahan. Astaghfirullah...

Usut punya usut, denger punya denger, yang jadi biang keladi aturan-aturan gila itu adalah (maaf) salah satu ustadz di sana. Pada lingkungan RT tersebut memang punya dua kubu pemuka agama, yang satu netral dan normal, yang satunya yaaah si ustadz ini. Banyak ajaran dari beliau ini yang menurut ibu RT dan ibu-ibu lainnya cukup bertentangan. Kadang beliau memberikan ceramaah di pengajian ibu-ibu dan isinya itu-itu lagi, membuat pemahaman agama tak kunjung bertambah. Terlebih lagi, sang ustadz merupakan penduduk asli daerah tersebut dan usianya sudah cukup tua. Dari hipotesis aku, sepertinya sang ustadz merasa patut dihormati karena telah tinggal lebih lama disana dan merasa berkuasa karena dari segi umurnya juga lebih tua dibandingkan warga-warga pendatang. Soalnya, perlakuan beliau ke warga-warga pendatang menurut bu RT sangat berbeda dengan perlakuan beliau terhadap warga asli daerah itu. Selain itu, masjid dibangun di atas tanah waqaf yang mungkin disumbangkan oleh salah satu warga asli sana dulunya sehingga sang ustadz merasa berhak mengatur urusan masjid dibandingkan warga pendatang seperti Pak RT, dan lainnya. Itu hanya sekedar hipotesisku saja berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan #eaaaa. wkwk

Saya mungkin bukan orang yang sangat memahami agama dengan mendalam ya. Tapi sebagai seorang muslim yang juga masih belajar tentang islam, sepertinya pandangan sang ustadz akan hal tersebut salah. Takutnya nanti malah jadi tersebar pemahaman yang salah, apalagi beliau mendakwahkannya pada warga lainnya. Untuk kasus wanita ke masjid saja misalnya, beliau melakukan pelarangan seolah-olah mengharamkannya bagi wanita ke masjid. Padahal setau saya, ada mazhab yang melarang karena takut terjadinya fitnah, namun ada juga mazhab yang mengatakan boleh bagi wanita shalat dan berjamaah di masjid. Itu yang saya ketahui. Mengenai pernikahan, sepertinya tidak pernah ada pelarangan seseorang melakukan akad nikah di masjid. Pernikahan kan juga ibadah dan alangkah lebih baik dilakukan di rumah Allah. Kecuali, kalau acara resepsi dilakukan di dalam masjid, mungkin itu salah dan diharamkan. Semoga nanti ada orang yang mampu menyadarkan persepsi sang ustadz dan warga lainnya ya Allah...

Masjid yang bagus padahal :"(

Oia, selain kisah barusan ada kisah lainnya yang cukup menyedihkan dari masjid juga.
Jadi, ceritanya aku dan Ica udah hampir ketinggalan sholat dzuhur karna masjid tsb melarang wanita sholat di sana -__- terus kita cari masjid lain yang terdekat sembari mengarahkan motor ke tujuan selanjutnya. Akhirnya kami menemukan sebuah masjid, masih di kelurahan yang sama. Letaknya di ujung sebuah gang perumahan yang panjangnya gangnya hanya 100 meter. Ketika kami sampai, kondisinya cukup menyedihkan ya. Pertama, pagarnya tertutup hampir rapat seolah tak pernah ada pengunjungnya. Kedua, ketika masuk ke dalam benar adanya. Pintu masjid tertutup sangat rapat. Lantai terasnya pun kotor dan berdebu, tak pernah disapu apalagi dipel. Ketiga, tempat wudhu dan kamar mandi telah ditumbuhi rumput dan tanaman-tanaman liar yang telah tumbuh sumbur disana. Sungguh menyedihkan. Seandainya masjid tersebut punya wajah, pasti wajahnya terlihat suram dan raut mukanya sangat sedih. Tidak ada kumandang Adzan, tidak ada lelaki yang shalat berjamaah di masjid untuk jum'atan, tidak adalagi alunan ayat-ayat al-Quran, tidak lagi dirasakan yang namanya 'Meramaikan dan Memakmurkan Masjid' bagi masjid ini :"((

Semoga hanya segelintir masjid-masjid yang seperti ini
...

Thanks for visited My Blog

0 comments